Uncategorized

ANDAI DI TERAS MAHAMERU TIDAK SEPERTI SAAT INI. CERITA DIBALIK BAKSOS MIDA RANUPANI, TPQ AL-MUSTAQIMIYAH BERSAMA SVN RANUPANI UNTUK MASYARAKAT TERDAMPAK ERUPSI GUNUNG SEMERU

22 Desember 2021


4 Desember 2021 Langit Ranupani sore tidak begitu cerah seperti sediakala. Saya masih saja tidak mengerti ada kabar apa diluar sana yang menjadi perbincangan banyak orang. Siapa yang menyangka gunung semeru yang biasanya menjadi lukisan alam yang tenang, kini berbeda. Melihat banyak status teman di WA semuanya memakai video anak kecil yang lari dari kepulan asap panas Gunung Semeru. Desaku baik-baik saja, sedangkan desa yang lain sedang berduka cita.

Setelah Isya’ temanku dari Malang mengabarkan akan datang ke Lumajang.
“ Ustad, kalau misalnya lewat Ranupani untuk menuju desa sumberwuluh apa bisa?.” Tanya ustad Doni.
“ Bisa ustad, apa mau buka Posko disana?” Tanyaku.
“ Iya ustad, sampai saat ini teman kita belum bisa dihubungi, mas nanang rumahnya sangat dekat dengan kampung renteng (sumberwuluh), mudah-mudahan baik baik saja.” Lanjut ustad doni.
“ Aamin ustad, saya akan merapat untuk kesana. Mohon kabari sekiranya ada kabar terbaru dari mas nanang.” Jawabku.

Latar belakang Ustad Doni adalah seorang aktivis yang bergerak di bidang pendidikan dan gerakan sosial, sedang Mas Nanang Sideqon adalah teman sekolahku semasa Man 01 Lumajang. Pertemuan kita sekitar dua bulan lalu ketika kita sedang melakukan baksos di MI Thoriqul Huda Ranupani almamater tempat saya(baca:kepala sekolahnya). Ketertarikan untuk membangun pendidikan madrasah yang berkwalitas menjadikan kita bertemu, berdisikusi, baksos untuk menggalang dukungan dan dana untuk madrasah ini. Tetapi kini pembahasannya lain, sebab Mas Nanang seharian penuh memang tidak dapat dihubungi sama sekali.

Hanya mampu mendoakan untuk semua masyarakat yang terdampak erupsi.

Hati pun bergelut bagaimana caranya dapat memberikan sumbangsih kepada masyarakat yang membutuhkan bantuan. Saya memang bukanlah siapa-siapa , tetapi rasa kemanusiaan terketuk sangat kuat. Semakin banyak video-video tersebar di grup WA tentang dampak bencana ini. Dari Rumah saya hanya bisa melakukan sholat Goib untuk mereka yang telah meninggal dunia. Begitu banyak hal yang berkecamuk sedih di hati, air mata pun menetes dengan penuh harap semoga musibah ini segera usai.

Mengingat Dulu Semeru.

Wahai Semeruku, ijinkan aku menatap gagah tubuhmu
Setiap pagi kusapa dirimu arungi belantara tengger syahdu
Daun-daun yang bertebaran di jalan menulis surat cinta untukmu
Kini Menuju Hari Senja ada apa dengan semeru?

Kapan waktu Semeru kakiku pernah ada diatapmu
Tatkala mataku kau manjakan cahaya rindu
Tangis dan Duka seolah robohkan kenangan itu
Ada anak kecil takut padamu, berlari ketakutan ingin hari ini segera berlalu
Aku cemas, semeru adakah aku kehilangan senyumanmu?

Mengingatmu, dulu…
Cantik wajahmu sunrisenya suburkan tanah petani desaku
Bolehkah kudengarkan emosi ruhmu tanpa erupsi?
Kita bersandar pada janji yang sama menjaga bumi kedamaian sejati

Mengingatmu, dulu…
Aku tak berdaya denganmu yang lebih gagah dari manusia
Tapi rasa cinta kita sama untuk sang Pencipta
Walau do’a-do’aku pernah membisu untukmu, Semeru
Bersabarlah… biarkan manusia tertidur tenang seperti dulu

Menghimpun komunikasi dengan Tokoh SVN Ranupani dan TPQ di Desa Senduro.

Esok harinya Mas Nanang sudah dapat dihubungi, mengabarkan alhamdulillah baik-baik saja. Obrolan ditelepon pun, sedikit mengobati rasa khawatir kepada sahabat. Saya pun mengajak mas Julio Gesa (SVN Ranupani) untuk menuju ke Sumberwuluh menemui Mas Nanang untuk mnengetahui kondisi secara langsung. Sepanjang perjalanan, masih ada hujan debu yang menyelimuti udara. Rintik hujan belum juga mereda. Penjagaan Petugas Siaga Bencana di wilayah Penanggal – Sumberwuluh juga telah nampak dipertigaan-perempatan. Juga gotong-royong bantuan dari berbagai daerah, membawa mobil-pick up, sepeda motor memadatkan arus lalu lintas menuju lokasi.

Tiba di rumah Mas Nanang, ternyata disitu sudah tidak ada keluarganya. Dia sedang berada di kampung renteng yang viral di grup WA itu. “ Ustad, saya sedang bersama teman-teman HI (human initiative.org) ada dilokasi kampung renteng. Kamu kesinio.” Jawab Mas Nanang ditelpon.
Setelah itu saya dan mas Julio Gesa pun berkesempatan menuju lokasi berduka itu. Memakai jas hujan kuning, kulihat temanku dengan mata yang sayu sedang aktif menjadi bagian relawan kemanusiaan. Menahan perasaan khawatir seharian, kupeluk dia dengan rasa haru bahagia masih dapat bertemu kembali. Alhamdulillah sobatku.

Tadi saya hanya dapat rumah-rumah yang tidak berpenghuni di sepanjang perjalanan. Diatas rumah mereka masih ada beberapa burung, membuka pikiran dunia mereka sedang tidak baik-baik saja. Kini dari kejauhan (di kampung renteng) banyak rumah yang tenggelam karena abu semeru. Air yang ada di arus sungai mengeluarkan asap putih, suara pohon yang tumbang, persis seperti kita melihat tragedi perang yang ada di film-film.

Tiba di rumah mas nanang, cerita tentang awal kejadian itu membuatku terbawa akan suasana mencekam kala itu. “ Sore itu, langit tiba-tiba gelap gulita. Anakku sedang belajar ngaji di TPQ nya. Suasana kalut saya mencari anakku yang badannya sudah penuh dengan abu semeru. Badannya jadi Hitam. Lalu Balik lagi ke rumah untuk menyelamatkan orang tua dan istri untuk diungsikan ke tempat yang lebih aman.” Sepenggal cerita dari Mas Nanang. Kita hanyut dalam suasana mencekam itu, tak terbayangkan sungguh terbawa diantara hidup dan mati. Lokasinya yang dekat dengan balaidesa Sumberwuluh Candipuro, Rumah mas nanang pun dijadikan sebagai posko penerimaan bantuan oleh beberapa Organisasi Kemanusiaan Nasional. Hari itu membawa pesan yang mendalam bagi saya dan mas Julio Gesa untuk dapat merasakan guncangan jiwa yang mereka alami. Dengan menggalang dana bersama Walimurid MIDA Ranupani, Masyarakat Ranupani, dan Walisantri TPQ Al-Mustaqimiyah Senduro, Walisantri TPQ Langgar Panggung Senduro juga terimakasih saya ucapkan kepada Gus Imam Senduro yang telah berperan aktif dalam kegiatan mulia ini. Alhamdulillah kita semua dapat menyalurkan bantuan ini untuk masyarakat yang membutuhkan dilokasi terdampak erupsi gunung semeru di Desa Sumberwuluh Candipuro Lumajang. Alhamdulillah.Hong Ulun Basuki Langgeng



Bagikan berita ini



Berita Lainnya

Telkom Living Lab Smart City Nusantara
Jl. Gunung Sahari Raya No.53, Jakarta Pusat
Living Lab Smart City Nusantara
 
© 2020, Smart Village Nusantara. Hak Cipta Dilindungi